Sekolah negeri dan swasta, hanya status tidak menjamin kualitas
Selayaknya kesehatan, pendidikan merupakan hak dasar setiap
manusia. Berbicara mengenai pendidikan, maka berbicara pula mengenai
masa depan bangsa. Penjelasannya, sistem pendidikan yang diterapkan
disuatu negara adalah indikator kualitas sumber daya manusia dimasa
depan. Benar jika beranggapan bahwa setiap orang dikaruniai kemampuan
atau modal intelektual yang berbeda-beda, tetapi ketika tidak dikelola
dengan baik maka apalah arti itu semua. Contoh nyata adalah para
koruptor. Diakui atau tidak, kebanyakan koruptor adalah mereka
orang-orang yang pintar. Dibilang pintar karena mereka mampu menerobos
sistem yang sudah ada demi mencari keuntungan pribadi. Mereka ini adalah
generasi yang gagal akibat lingkungan pendidikan yang tidak mampu
mengajarkan nilai-nilai moral dan tanggung jawab intelektual yang awet.
Mereka ini yang menjadikan limpahan materi sebagai indikator kesuksesan.
Jelas sekali bahwa faktor lingkungan khususnya lingkungan pendidikan
sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia yang akan
dihasilkan.
Sistem pengelolaan pendidikan di Indonesia diserahkan kepada pemerintah atau biasa dikenal dengan sekolah yang punya embel-embel negeri dan satunya lagi dikelola oleh swasta atau yayasan tertentu. Dari segi pendanaan, sekolah negeri jelas mendapatkan bantuan dan perhatian lebih dari pemerintah. Sedangkan segi pendanaan sekolah swasta secara mandiri. Walaupun kondisinya demikian, tidak ada jaminan bahwa sekolah negeri lebih murah dari sekolah swasta. Komersialisasi pendidikan pun dapat terjadi di sekolah negeri maupun swasta. Hal itu berkaitan dengan sumber daya pengelolanya.
Namun ironisnya, satu hal yang sering terjadi bahwa orang akan lebih bangga ketika bersekolah di sekolah negeri. Kebanggaan itu yang terkadang menutup hati sesorang bahwa esensi masuk ke suatu sekolah bukan hanya karena kebanggan semata, tapi karena kualitas atau mutunya. Tidak ada jaminan bahwa sekolah negeri kualitasnya lebih baik daripada sekolah swasta.
Sekolah dinilai berkualitas atau tidak bukan dilihat dari statusnya yang negeri atau swasta, melainkan dilihat dari dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Saya ambil dua contoh untuk masing-masing faktor. Faktor internal antara lain sumber daya yang mengelola dan fasilitas yang tersedia. Sedangkan faktor eksternal adalah alumni yang telah dihasilkan dan kerjasama yang telah dijalin oleh sekolah.
Sumber daya yang mengelola suatu sekolah baik sekolah dasar sampai perguruan tinggi akan sangat mempengaruhi kualitas sekolah tersebut. Sumber daya ini erat kaitannya dengan penerapan sistem pendidikan atau hal yang lebih teknis adalah bagaimana seorang tenaga pendidik menularkan ilmu yang dimiliki ke siswa atau mahasiswa yang diajarnya. Misalnya saja sekolah negeri maupun swasta memiliki tenaga pengajar dengan spesifikasi gelar yang sama. Maka yang membedakan diantara keduanya bukanlah dilihat dimana mereka mengajar atau seberapa banyak gelar pendidikan yang mereka miliki, tetapi lebih kepada bagaimana cara mereka menularkan ilmunya. Ketika cara mengajar yang diterapkan dapat dengan mudah dipahami, maka secara tidak langsung kualitas sekolah akan terangkat. Satu contoh lagi, status pegawai negeri sipil (PNS) yang telah disandang oleh kebanyakan tenaga pengajar di sekolah negeri juga bukan merupakan jaminan sekolah itu akan berkualitas. Jiwa sebagai pengajar yang melekat pada diri seseorang-lah yang berbicara. Jangan sampai orientasi menjadi pengajar adalah karena insentif yang besar? Kalau hal itu terjadi, mana mungkin negara ini akan maju.
Kelengkapan fasilitas yang tersedia merupakan faktor lain yang dapat meningkatkan penilaian kualitas suatu sekolah. Hal itu karena fasilitas merupakan sarana yang digunakan untuk mengakomodir kebutuhan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Ketika terdapat ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan fasilitas, maka kegiatan belajar mengajar pun terganggu. Dampak dari itu semua adalah tidak tercapainya kompetensi yang harusnya diraih siswa atau mahasiswa di sekolah tersebut. Sebagai satu catatan, fasilitas yang lengkap tidak harus diimbangi dengan kemewahan yang malah akan menambah biaya pendidikan. Hal itu yang kemudian menjadi perhatian bagi birokrat sekolah.
Alumni dan kerjasama yang telah dijalin adalah faktor lain yang dapat mendongkrak penilaian kualitas suatu sekolah. Tidak jarang, alumni yang telah sukses atau menduduki posisi penting pada suatu instansi akan memberikan kemudahan bagi lulusan dari almamater yang sama dengannya. Dari contoh diatas, jelaslah bahwa tidak ada jaminan bahwa kualitas sekolah negeri pasti lebih baik dari pada sekolah swasta. Begitu pula sebaliknya. Baik negeri atau pun swasta itu sama, sama-sama tempat menuntut ilmu. Faktor internal dan eksternal-lah yang membedakan antara keduanya, bukan sebatas karena status. Antara faktor internal dengan eksternal merupakan satu kesatuan sistem yang saling mempengaruhi. Oleh karena itu, sinergisitas antara kedua faktor itu akan sangat menentukan kualitas suatu sekolah.
Sistem pengelolaan pendidikan di Indonesia diserahkan kepada pemerintah atau biasa dikenal dengan sekolah yang punya embel-embel negeri dan satunya lagi dikelola oleh swasta atau yayasan tertentu. Dari segi pendanaan, sekolah negeri jelas mendapatkan bantuan dan perhatian lebih dari pemerintah. Sedangkan segi pendanaan sekolah swasta secara mandiri. Walaupun kondisinya demikian, tidak ada jaminan bahwa sekolah negeri lebih murah dari sekolah swasta. Komersialisasi pendidikan pun dapat terjadi di sekolah negeri maupun swasta. Hal itu berkaitan dengan sumber daya pengelolanya.
Namun ironisnya, satu hal yang sering terjadi bahwa orang akan lebih bangga ketika bersekolah di sekolah negeri. Kebanggaan itu yang terkadang menutup hati sesorang bahwa esensi masuk ke suatu sekolah bukan hanya karena kebanggan semata, tapi karena kualitas atau mutunya. Tidak ada jaminan bahwa sekolah negeri kualitasnya lebih baik daripada sekolah swasta.
Sekolah dinilai berkualitas atau tidak bukan dilihat dari statusnya yang negeri atau swasta, melainkan dilihat dari dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Saya ambil dua contoh untuk masing-masing faktor. Faktor internal antara lain sumber daya yang mengelola dan fasilitas yang tersedia. Sedangkan faktor eksternal adalah alumni yang telah dihasilkan dan kerjasama yang telah dijalin oleh sekolah.
Sumber daya yang mengelola suatu sekolah baik sekolah dasar sampai perguruan tinggi akan sangat mempengaruhi kualitas sekolah tersebut. Sumber daya ini erat kaitannya dengan penerapan sistem pendidikan atau hal yang lebih teknis adalah bagaimana seorang tenaga pendidik menularkan ilmu yang dimiliki ke siswa atau mahasiswa yang diajarnya. Misalnya saja sekolah negeri maupun swasta memiliki tenaga pengajar dengan spesifikasi gelar yang sama. Maka yang membedakan diantara keduanya bukanlah dilihat dimana mereka mengajar atau seberapa banyak gelar pendidikan yang mereka miliki, tetapi lebih kepada bagaimana cara mereka menularkan ilmunya. Ketika cara mengajar yang diterapkan dapat dengan mudah dipahami, maka secara tidak langsung kualitas sekolah akan terangkat. Satu contoh lagi, status pegawai negeri sipil (PNS) yang telah disandang oleh kebanyakan tenaga pengajar di sekolah negeri juga bukan merupakan jaminan sekolah itu akan berkualitas. Jiwa sebagai pengajar yang melekat pada diri seseorang-lah yang berbicara. Jangan sampai orientasi menjadi pengajar adalah karena insentif yang besar? Kalau hal itu terjadi, mana mungkin negara ini akan maju.
Kelengkapan fasilitas yang tersedia merupakan faktor lain yang dapat meningkatkan penilaian kualitas suatu sekolah. Hal itu karena fasilitas merupakan sarana yang digunakan untuk mengakomodir kebutuhan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Ketika terdapat ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan fasilitas, maka kegiatan belajar mengajar pun terganggu. Dampak dari itu semua adalah tidak tercapainya kompetensi yang harusnya diraih siswa atau mahasiswa di sekolah tersebut. Sebagai satu catatan, fasilitas yang lengkap tidak harus diimbangi dengan kemewahan yang malah akan menambah biaya pendidikan. Hal itu yang kemudian menjadi perhatian bagi birokrat sekolah.
Alumni dan kerjasama yang telah dijalin adalah faktor lain yang dapat mendongkrak penilaian kualitas suatu sekolah. Tidak jarang, alumni yang telah sukses atau menduduki posisi penting pada suatu instansi akan memberikan kemudahan bagi lulusan dari almamater yang sama dengannya. Dari contoh diatas, jelaslah bahwa tidak ada jaminan bahwa kualitas sekolah negeri pasti lebih baik dari pada sekolah swasta. Begitu pula sebaliknya. Baik negeri atau pun swasta itu sama, sama-sama tempat menuntut ilmu. Faktor internal dan eksternal-lah yang membedakan antara keduanya, bukan sebatas karena status. Antara faktor internal dengan eksternal merupakan satu kesatuan sistem yang saling mempengaruhi. Oleh karena itu, sinergisitas antara kedua faktor itu akan sangat menentukan kualitas suatu sekolah.
This entry was posted in Human Interest, Inspiration, Lomba and tagged lomba, sekolah. Bookmark the permalink.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar